IMAN KATOLIK

TUBUH ALAMIAH YANG DITABUR, DIBANGKITKAN TUBUH ROHANIAH

Posted on

40 Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi,

tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi.

41 Kemuliaan matahari lain dari pada kemuliaan bulan,

dan kemuliaan bulan lain dari pada kemuliaan bintang-bintang,

dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain.

42 Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati.

Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan.

43 Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan.

Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan.

44 Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah.

Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.

(1Kor 15:40-44)

Apa itu kematian?

Bertanya tentang apa arti kematian, sebuah jawaban yang sering dilontarkan yakni bahwa kematian adalah suatu keadaan dimana seseorang lupa bernafas. Seperti sebuah lelucon, namun sungguh benar. Karena memang orang yang sudah meninggal dunia tidak lagi bernafas. Jawaban lain yang setinggkat lebih maju adalah suatu keadaan berpisahnya jiwa dan raga. Dan sebagai orang Kristen kita mengatakan bahwa kematian adalah suatu keadaan dimana nafas Allah telah diambil keluar dari tubuh yang fana ini. Nafas yang dulu dihembuskan Allah ke dalam hidung Adam, telah diambil kembali, sehingga tanah akan kembali seperti tanah. Baca entri selengkapnya »

T R I H A R I P A S K A H

Posted on

Mengapa tanggal Paskah tidak menetap?

Bahwa pesta Paskah setiap tahun bergeser, biasanya tidak dihiraukan. Tetapi karena tahun lalu Paskah jatuh begitu dini, maka orang bertanya-tanya, mengapa bisa begitu. Siapa  menetapkan tanggal itu dan menurut pedoman apa? Dan kita ingat, bahwa bersama dengan hari raya Paskah juga bergeser anting-antingnya (Masa Prapaskah dengan Hari Rabu Abu, Minggu Palma dan Minggu Suci, Masa Paska dengan Kenaikan Tuhan, Pentakosta dan ketiga hari raya : Tritunggal, Tubuh dan Darah Kristus, Hati Kudus Yesus dan Hati Tersuci SP. Maria).

Tanggal Paskah sudah ditetapkan oleh Kitab Suci dan selanjutnya Konsili Nikea I (tahun 325 M). Menurut Kitab Suci (Im 23:5) Pesakh atau Paskah, harus dirayakan di malam 14 Nisan / Abib atau dengan kata lain pada bulan purnama (pertama) sesudah Ekwinoks I (21.Maret). Ekwinoks adalah saat malam dan hari siang sama panjangnya dan ada dua kali setahun. Tanggal itu merupakan juga permulaan musim semi, sedangkan Ekwinoks kedua (21 September) adalah permulaan musim gugur. Baca entri selengkapnya »

ASAL USUL DOA ROSARIO

Posted on

Akar: Bapa Kami

Sembahyang Rosario berakar di dalam liturgi, yaitu di doa ofisi para rahib, khususnya di Irlandia. Waktu permulaan zaman pertengahan timbul kebiasaan, mendaras semua 150 mazmur atau sekurang-kurangnya satu “Quinquagena”, berarti 50 buah. Tetapi hanya para imam yang berpendidikan di antara rahib itu sanggup membaca atau menghafal semua mazmur. Rahib yang bukan imam dan juga orang biasa yang saleh mencari jalan yang lebih sederhana. Mereka mengganti mazmur-mazmnr sebanyak jumlah Bapa kami. Untuk-itu dipakai sebuah rantai hitungan, hampir seperti rosario kita sekarang. Praktek itu kita kenal juga dari anggaran dasar S.Fransiskus untuk saudara-saudara dina yang tidak berstudi: 24 Bapa kami untuk Matutina, 5untuk Laudes dan Vesper, 7 untuk masing-masing hora kecil . Sekitar tahun 1140 muncul tali hitungan dan disebut circulus gemmorum (rantaibutir) atau tali Paternoster.

Ave Maria

Sekitar tahun 1000 dengan lambat laun Bapa kami diganti dengan Salam Maria sesuai dengan selera masa itu yang lebih cenderung pada penghormatan bunda Maria (misalnya S. Bernhardus dari Clairvaux), juga mungkin sebagai pengganti untuk Ofisi De Beata yang setiap hari didaras di samping ofisi biasa dan ofisi arwah. Dari masa itu berasal rantai doa 50 biji dan juga bernama Rosario, yang berarti mahkota dari bunga mawar. Karena waktu itu ada kebiasaan bahwa seorang ksatria menyerahkan sebuah mahkota dari bunga ros kepada nyonya pujaannya yang mau dia hormati. Tetapi doa Ave Maria waktu itu masih lebih pendek, hanya teridiri dari kedua kutipan Kitab Suci: Lk 1:28 dan Lk 1:42 dan ditambah nama Maria dan Yesus/Yesus Kristus. Baru sesudah Konsili Trente ditambah permohonan “Sancta Maria, mater Dei… “. Berarti Salam Maria lebih dahulu pujian murni (tanpa permohonan) dan berpuncak di dalam pujian Kristus. Baca entri selengkapnya »

“ORIENTASI” PERTAMA

Posted on

Setelah Aleksander Agung wafat (323 SM), para Diadokhi membagikan kerajaannya. Maka bangsa Israel lebih dahulu masuk ke dalam pemerintah Mesir, kemudian Siria. Raja Siria Antiokhus IV Epifanes bermaksud meratakan kebudayaan Yunani kepada semua bangsa yang direbutnya, termasuk bangsa Yahudi. Maka terjadi pemberontakan dipimpin oleh imam Matatias beserta ke-5 anaknya, yang juga disebut kaum Makabe (bdk. 1Mak; 2Mak). Banyak orang Yahudi waktu itu melarikan diri ke padang gurun, dekat Laut Mati. Dari kalangan mereka timbul aliran orang Yahudi yang disebut Esseni, Ada sebuah biara mereka dekat Laut Mati di Qumran.

Bulan Desember tahun 167 SM raja Siria, Antiokhus IV Epifanes menempatkan yang disebut kekejian yang mengerikan (monster – kemungkinan besar patungnya sendiri) di atas altar bait Allah di Yerusalem. Sejak itu kaum Esseni di padang gurun tidak lagi bersembah sujud menuju ke Yerusalem, melainkan ke timur, yakni ke arah terbitnya matahari. Kemudian dalam perkembangan agama Kristen (Katolik), arah berdoa bukan lagi ke Yerusalem atau ke Timur melaikan dimana ada salib ditempatkan. Yesus adalah matahari sejati. Baca entri selengkapnya »

SAKRAMENTALIA DAN INKULTURASI

Posted on

Tentang sakramentalia-sakramentalia dikatakan di Konstitusi Liturgi (SC 60 & 61) :
Selain itu (diluar sakramen-sakramen sebagai 7 tanda-tanda pengudusan yang besar) Bunda Gereja kudus telah mengadakan sakramentalia, yakni tanda-tanda suci, yang memiliki kemiripan dengan sakramen-sakramen. Sakramentalia itu menandakan kurnia-kurnia, terutama yang bersifat rohani dan yang diperboleh berkat doa permohonan Gereja. Melalui sakramentalia itu hati manusia disiapkan untuk menerima buah utama sakramen-sakramen atau merupakan tanda-tanda olehnya hidup kaum beriman di dalam pelbagai situasi dikuduskan.

Dengan demikian berkat liturgi sakramen-sakramen dan sakramentalia-sakramentalia bagi kaum beriman yang hatinya sungguh siap hampir setiap peristiwa hidup dikuduskan dengan rahmat ilahi yang mengalir dari misteri Paskah: sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Dari misteri itulah semua sakramen dan sakramentalia menerima daya kekuatannya. Mereka juga mengerjakan, bahwa praktis semua hal, bila dipakai dengan benar, dapat diarahkan kepada pengudusan manusia dan kepada pemuliaan Allah.

Selanjutnya ditetapkan oleh Konsili, bahwa ritus-ritus sakramen dan sakramentalia harus diperbaiki, dilepaskan dari unsur-unsur yang tidak cocok dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman ini (SC 63 & 79). Hanya sedikit saja sakramentalia ingin direservir untuk uskup. Sejumah tertentu perayaannya ingin diizinkan juga untuk para awam. Baca entri selengkapnya »

HOMOSEKSUAL

Posted on

Ada tiga pertanyaan tentang ini :
1. Apakah homoseksual itu dosa ? Layakkah seseorang yang homoseksual untuk menerima Komuni?
2. Apakah dia bisa “sembuh”?
3. Apa yang harus dilakukan untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan Yesus, karena dia pasti mereka selalu bersalah dan tidak layak melayani Tuhan.

Homoseksual dan ajaran Gereja Katolik

Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan homoseksualitas sebagai berikut: KGK 2357 Homoseksualitas adalah hubungan antara para pria atau wanita, yang merasa diri tertarik dalam hubungan seksual, semata-mata atau terutama, kepada orang sejenis kelamin. Homoseksualitas muncul dalam berbagai waktu dan kebudayaan dalam bentuk yang sangat bervariasi. Asal-usul psikisnya masih belum jelas sama sekali. Berdasarkan Kitab Suci yang melukiskannya sebagai penyelewengan besar Bdk.Kej 19:1-29; Rm 1:24-27; 1 Kor 6:10; 1 Tim 1:10., tradisi Gereja selalu menjelaskan, bahwa “perbuatan homoseksual itu tidak baik” (CDF, Perny. “Persona humana” 8). Perbuatan itu melawan hukum kodrat, karena kelanjutan kehidupan tidak mungkin terjadi waktu persetubuhan. Perbuatan itu tidak berasal dari satu kebutuhan benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual. Bagaimanapun perbuatan itu tidak dapat dibenarkan.

Namun demikian, Gereja juga menyadari bahwa tidak sedikit pria dan wanita yang sedemikian mempunyai kecenderungan homoseksual yang tidak mereka pilih sendiri. Mereka ini harus dilayani dengan hormat, dengan kasih dan bijaksana. Mereka harus diarahkan agar dapat memenuhi kehendak Allah dalam kehidupannya, dengan hidup murni, melalui kebajikan dan pengendalian diri dan mendekatkan diri pada Tuhan melalui doa dan sakramen, menuju kesempurnaan Kristen (KGK 2358-2359). Baca entri selengkapnya »

I N D U L G E N S I

Posted on Updated on

Pengantar

Waktu saya masih kecil, suatu hari ibu marah pada saya. Pada hal ibu baru saja siap menyapu lantai dan mengepelnya. Karena saya sudah capek, tanpa sadar saya masuk rumah tanpa membuka sepatu terlebih dahulu. Sepatu saya meninggalkan bekas-bekas lumpur. Aduh! Ibu marah. Saya minta maaf dan ibu saya memberi maaf. Namun tetap saja ibu minta pertanggungjawaban dari perbuatan saya: membersihkannya dengan mengepel ulang.

Jadi kita dapat melihat bahwa akibat dari kesalahan yang saya perbuat, ada dua hal yang saya terima, yaitu: hukuman (siksa dosa) dan dosa (guilt)[1] Dosa (kesalahan) saya telah dimaafkan oleh mama saya, namun saya tetap harus menanggung hukuman – dengan mengepel lantai yang kotor – akibat kesalahan yang saya lakukan.

Konsekuensi ganda dosa

Gereja Katolik mengenal adanya dua tipe dosa, yaitu 1) dosa ringan dan 2) dosa berat. Karena kodrat dari dua tipe dosa tersebut berbeda, maka hukuman dari dua tipe dosa tersebut juga berbeda. Memang setiap dosa menyedihkan hati Tuhan, namun tidak semua dosa membawa konsekuensi hukuman maut (Lih 1 Yoh 5:16-17).[2]. Kita bisa melihat contoh dalam kehidupan sehari-hari, di mana dalam beberapa hal, kita dapat membedakan tingkatan dosa dengan cukup mudah. Berikut ini adalah beberapa perbedaaan antara dosa berat dan dosa ringan:

1) Secara nalar dosa berat dan dosa ringan berbeda, misalkan: mencubit lengan seseorang lebih ringan dosanya dibanding dengan memukul kepala seseorang dengan kayu. Tentu, kita mengetahui bahwa membunuh seseorang adalah dosa yang lebih berat daripada ketiduran saat berdoa yang disebabkan oleh tidak-disiplinan dalam meluangkan waktu untuk berdoa.

2) Dari efek yang mempengaruhi tujuan akhir: dosa berat membuat seseorang berbelok dari tujuan akhir, sedang dosa ringan hanya membuat seseorang tidak terfokus pada tujuan akhir namun tidak sampai berbelok dari tujuan akhir. Atau dengan kata lain, dosa berat menghancurkan tatanan dan menghancurkan kasih, sedang dosa ringan memperlemah kasih.

3) Keseriusan (gravity) dari dosa yang membawa konsekuensi yang berbeda, dimana orang berdosa berat tanpa bertobat dapat masuk neraka, sedang dosa ringan membawa hukuman sementara, baik di dunia atau di Api Penyucian.

4) Cara pertobatan yang berbeda. Karena dosa berat menghancurkan tatanan untuk sampai ke tujuan akhir, maka hanya kekuatan Tuhan saja yang dapat membawa kembali orang ini ke tatanan yang baik, contohnya: bagi yang belum dibaptis melalui Sakramen Baptis, dan bagi yang telah dibaptis dapat melalui Sakramen Tobat. Sedang dosa ringan, karena tidak berbelok dari tujuan akhir, maka dapat diperbaiki dengan lebih mudah.

5) Obyek (object) dan kategori (genus) antara dosa berat dan dosa ringan berbeda. Dosa berat dimanifestasikan sebagi perlawanan terhadap Tuhan, seperti: hujatan, sumpah palsu, penyembahan berhala, kemurtadan, dan juga melawan hukum kasih terhadap sesama, seperti: membunuh, berzinah, dll. Sedang dosa ringan tidak secara langsung melawan kasih terhadap Tuhan dan sesama, yang mungkin dapat diwujudkan dalam: perkataan yang sia-sia, dll. Baca entri selengkapnya »