ASAL USUL DOA ROSARIO

Posted on

Akar: Bapa Kami

Sembahyang Rosario berakar di dalam liturgi, yaitu di doa ofisi para rahib, khususnya di Irlandia. Waktu permulaan zaman pertengahan timbul kebiasaan, mendaras semua 150 mazmur atau sekurang-kurangnya satu “Quinquagena”, berarti 50 buah. Tetapi hanya para imam yang berpendidikan di antara rahib itu sanggup membaca atau menghafal semua mazmur. Rahib yang bukan imam dan juga orang biasa yang saleh mencari jalan yang lebih sederhana. Mereka mengganti mazmur-mazmnr sebanyak jumlah Bapa kami. Untuk-itu dipakai sebuah rantai hitungan, hampir seperti rosario kita sekarang. Praktek itu kita kenal juga dari anggaran dasar S.Fransiskus untuk saudara-saudara dina yang tidak berstudi: 24 Bapa kami untuk Matutina, 5untuk Laudes dan Vesper, 7 untuk masing-masing hora kecil . Sekitar tahun 1140 muncul tali hitungan dan disebut circulus gemmorum (rantaibutir) atau tali Paternoster.

Ave Maria

Sekitar tahun 1000 dengan lambat laun Bapa kami diganti dengan Salam Maria sesuai dengan selera masa itu yang lebih cenderung pada penghormatan bunda Maria (misalnya S. Bernhardus dari Clairvaux), juga mungkin sebagai pengganti untuk Ofisi De Beata yang setiap hari didaras di samping ofisi biasa dan ofisi arwah. Dari masa itu berasal rantai doa 50 biji dan juga bernama Rosario, yang berarti mahkota dari bunga mawar. Karena waktu itu ada kebiasaan bahwa seorang ksatria menyerahkan sebuah mahkota dari bunga ros kepada nyonya pujaannya yang mau dia hormati. Tetapi doa Ave Maria waktu itu masih lebih pendek, hanya teridiri dari kedua kutipan Kitab Suci: Lk 1:28 dan Lk 1:42 dan ditambah nama Maria dan Yesus/Yesus Kristus. Baru sesudah Konsili Trente ditambah permohonan “Sancta Maria, mater Dei… “. Berarti Salam Maria lebih dahulu pujian murni (tanpa permohonan) dan berpuncak di dalam pujian Kristus.

Di Flandria (Belgia) di Regula Begin (sejenis suster tanpa klausura) ditetapkan 3 kali mendaras psalterium domina nostra, berarti tiga quinquagena Salam Maria. Ternyata dianggap terlalu sederhana dan kurang kristologis, maka masing-masing sepuluh Salam Maria didahului dengan Bapa kami dan diikuti dengan doksologi Kemuliaan.

Anamnese Penyelamatan

Sekitar tahun 1300 ditulis sebuah buku doa di dalam biara Sistersien (perempuan) di St. Tomas di pegunungan Eifel (Jerman). Di situ juga terdapat semacam rosario dengan 100 kali Salam Maria. Setiap kali dengan nama Yesus ditambah salah satu misteri atau peristiwa keselamatan (memoria Dei). Misalnya: Salam Maria penuh rahmat… Dan terpujilai buah tubuhmu, Yesus, dengan perantaraan-Nya segala-galanya diciptakan. Atau: Yesus, yang bersengsara di kebun Getsemane untuk kami. Atau: Yesus, yang kembali ke Bapa menjadi pengantara kami. Inilah cara sederhana untuk terus menerus memperingati misteri keselamatan penuh dengan syukur dan cinta.

Doa Rosario yang lengkap

Sembahyang Rosario seperti sekarang baru diciptakan 100 tahun sesudah ditulis cara tadi di dalam buku doa Sistersien (pria) oleh seorang biarawan, Dominikus dari Borussia (Jerman Timur) namanya (+1461). Dia berasal dari sebuah desa dekat kota Danzig. Dia skolar dan vagabundus, berarti sebagai mahasiswa dia mengembara dunia. sampai dia dalam umur 25 tahun masuk biara Kartause (Biara Ordo Kartusian) St. Alban di kota Trier (Jerman Barat).

Karena dia belum berpengetahuan dalam perihal doa, magister nofis dan prior, Adolf dari Essen, menasehati dia mendaras “Quinquagene Ave Maria” (setiap hari mendaras 50 kali Salam Maria). Dominikus rasa kurang sanggup untuk berkonsentrasi waktu pendarasan itu, sehingga dia menempuh jalan seperti ditulis di dalam buku biarawati Sistersien tadi, yaitu sesudah setiap Salam Maria dengan kata Yesus dia menambah satu “clausula” (point renungan) dari riwayat Yesus dan ibu-Nya: … dan terpujilah buah tubultmu, Yesus, yang ditemui oleh para gembala di Betlehem. Atau: ” … Yesus, yang mewartakan keraiaan Allah kepada orang banyak”. Atau: “… Yesus, yang membiarkan diri ditangkap dan diikat dan dibawa ke hadapan hakim-Nya”.

Sesuai dengan Quinquagena (berarti 50 Salam Maria) riwayat Yesus dibagikan menjadi 50 misteri, mulai dari pewartaan malaikat kepada Maria sampai kedatangan Kristus kembali. Ide itu timbul dalam hati nofis Dominikus masa Adven tahun 1409. Prior Adolf dari Essen begitu terpesona dari penemuan nofis itu, bahwa dia mengirim idenya itu ke mana-mana di Eropa.

Di biara Dominikan di Koln sekali lagi diolah/dirobah Rosario Kartause itu. Biarawan-biarawan di situ (khususnya Alanus dari Rupe (+1475)) menyaring ke 150 misteri peristiwa menjadi 15 yang mudah dihafal umat (yang buta huruf waktu itu). Dan satu peristiwa dipertahankan selama 10 Salam Maria lamanya. Dengan ini doa Rosario menjadi lebih mudah dan lebih tenang dan intensif. Dan akhirnya ditambah dengan Bapa kami dan Kemuliaan seperti di regula Begin tadi.

Di Koln juga para Dominikan tidak lama sesudahnya mendirikan sebuah solidaritas (serikat, persaudaraan) pencinta sembahyang rosario yang cepat tersiar ke mana-mana. Pemeliharaan dan propaganda sembahyang rosario menjadi ciri khas Ordo Dominikan sampai masa kini. Oleh karena itu kita tidak heran, bahwa Dominikus dari Borussia tadi yang sebenarnya anggota ordo Kartause ditukar dalam ingatan orang menjadi Santu Dominikus, pendiri Ordo Predikatom (Dominikan). Dan timbul legenda, bahwa bunda Maria sendiri menyerahkan doa Rosario kepada S. Dominikus (+ 1221).

Beberapa catatan Pada Penutup

Di Jerman, tempat asal doa Rosario, sampai sekarang dipertahankan cara asli, yaitu bahwa peristiwa keselamatan disebut dengan nama Yesus, misalnya: Yesus, yang kaukandung dari Roh Kudus, ya perawan. Yesus, yang kaubawa ke Elisabet, ya perawan. Cara itu lebih lama, teta1 lebih mengintensifkan peristiwa.

Di luar Jerman cara yang lebih umum dipakai seperti juga di Indonesia, yaitu peristiwa masing-masing hanya satu kali disebut yaitu pada permulaan setiap sepuluh Salam Maria. Juga pada cara Jerman peristiwa-peristiwa biasanya lebih erat dengan hidup kita dengan tambahan “untuk kami” misalnya: “Yesus, yang bersengsara di Getsemane untuk kami”; “Yesus, yang memberi kami Roh Kudus”.

Doa Rosario pada asalnya doa pujian murni, bila kita bayangkan, bahwa permohanan penutup (Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami…) baru timbul sesudah Konsili Trente. Apalagi, pujian itu yang mulai dengan pujian Maria berpuncak dalam pujian Yesus Kristus, dengan menyebut salah satu misteri-Nya atau karya keselamatan. Sedangkan dalam praktek sering (berpengaruh dari doa permohonan tadi) doa Rosario menjadi sembahyang permohonan (‘Kita ambil doa Rosario untuk ini, atau untuk itu”).

Mengingat intens asal doa Rosario dan juga untuk menghayati spiritualitas doa yang sehat, baik bila doa Rosario lebih erat digabungkan dengan Kitab Suci, misalnya dengan membacakan ayat-ayat Kitab suci (lih. MB No.6) dan bila memilih nyanyian-nyanyian di antara masing-masing peristiwa sebaiknya dipilih lagu sesuai dengan peristiwa tersebut, sehingga doa Rosario menjadi lebih kristologis.

Di Jerman juga, lain dari pada di Indonesia dan negara lain, sesudah syahadat ketiga butir pertama mengenangkan dan memohonkan ketiga keutamaan ilahi: iman, harapan dan cinta kasih (juga begitu di Nias). Dengan ini doa Rosario berbentuk seperti sebuah katedral: Sebelum kita masuk untuk merayakan miiteri-misteri keselamatan, kita melewati pintu gerbang (syahadat) dan ruangan muka (disebut firdaus) demi menyiapkan kita merenungkan misteri Kristus dalam iman, harapan dan cinta kasih. Cara Indonesia adalah sebuah epiklese (seruan) nama Allah Tritunggal. Kedua cara merupakan peringatan inisiasi kita.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s